Risalah Qurban


Rasulullah SAW bersabda:
Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu-bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah –sebagai qurban– di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.”  (HR. Ibn Majah dan Tirmidzi).
Tirmidzi menyatakan: Hadits ini adalah hasan gharib. Hadits Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata:
“Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.” Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” HR. Ahmad dan ibn Majah. Dan telah shahih dari hadits Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang (mampu berqurban), lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami.”( HR. Ahmad dan ibn Majah).
Esensi hidup seorang hamba adalah untuk beribadah kepada Penciptanya. Ibadah adalah kekuatan tertinggi seorang hamba untuk mencapai keseimbangan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ibadah Qurban adalah ibadah yang sarat dengan nilai-nilai penghambaan total, kepasrahan, keimanan, pengorbanan dan ketaqwaan yang berujung pada imbalan kemuliaan disisi Allah.
Dahulu, Nabi Ibrohim a.s mengorbankan putranya (Ismail a.s) sebagai wujud penghambaan totalnya kepada Allah swt. Ismail a.s kecil yang dikorbankan adalah simbol harta yang paling bernilai bagi nabi Ibrohim saat itu. Ia telah menantikan seorang putra lebih dari separuh hidupnya. Putranya itu, senantiasa selalu menjadi anak kesayangan. Namun ketika putranya mulai beranjak remaja, Allah swt. memerintahkan Nabi Ibrohim untuk mengorbankannya dengan cara disembelih. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaffaat: 102 :
“Maka ketika sampai (pada usia sanggup atau cukup) berusaha, Ibrohim berkata: Hai anakku aku melihat (bermimpi) dalam tidur bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah bagaimana pendapatmu” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Subhanalloh, begitu tulus dan ikhlasnya putra yang dimiliki Nabi Ibrohim. Dalam mimpinya, Nabi Ibrohim mendapat perintah dari Allah supaya menyembelih putranya Nabi Ismail. Ketika sampai di Mina, Nabi Ibrohim menginap dan bermimpi lagi dengan mimpi yang sama. Demikian juga ketika di Arafah, malamnya di Mina, bermimpi lagi dengan mimpi yang tidak berbeda pula. Nabi pun kemudian mengajak putranya, Ismail, berjalan meninggalkan tempat tinggalnya, Mina. Baru saja Nabi Ibrohim berjalan meninggalkan rumah, syaitan menggoda Siti Hajar: “Hai Hajar! Apakah benar suamimu yang membawa parang akan menyembelih anakmu Ismail?”. Akhirnya Siti Hajar, sambil berteriak-teriak: “Ya Ibrohim, ya Ibrohim mau diapakan anakku?” Tapi Nabi Ibrohim tetap teguh untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut.
Setibanya di Jabal Qurban, sekitar 200 meter dari tempat tinggalnya. Nabi Ibrohim melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih Ismail. Rencana itu pun berubah drastis, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat Ash-Shaffaat ayat 103-107:
“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrohim membaringkan anaknya atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya. Dan Kami panggillah Dia: “Hai Ibrohim, “Kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang yang berbuat baik”. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar “.
Pelajaran dari Nabi Ibrohim memberikan sebuah contoh pengorbanan yang luar biasa. Apalah artinya sesuatu yang berharga bagi kita, jika tidak bernilai di hadapan Allah swt.
Wajah yang tampan dan cantik rupawan, fisik yang prima,uang dan harta benda yang lebih dari cukup, anak-anak yang cerdas, waktu yang luang, tidaklah akan bernilai di hadapan Allah, jika tidak mendatangkan imbalan kemuliaan dari Allah. Mari mensyukuri apa yang telah Allah titipkan kepada kita, terlebih jika sesuatu itu berharga bagi kita, dengan mengorbankannya untuk ibadah kepada Allah. Maka Alloh pun akan menggantinya dengan sesuatu yang besar.
Keutamaan ibadah Qurban dijelaskan pula oleh hadits diatas yang menyatakan, Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik amal bani Adam bagi Allah di hari Idul Adha adalah menyembelih Qurban. Di hari kiamat hewan-hewan qurban tersebut menyertai bani Adam dengan tanduk-tanduknya, tulang-tulang dan bulunya, darah hewan tersebut diterima oleh Allah sebelum menetes ke bumi dan akan membersihkan mereka yang melakukannya.” (HR. Tirmizi, Ibnu Majah).
Ibadah Qurban juga sarat dengan ibadah sosial sebagai wujud kepedulian sosial kepada sesama. Potensi Qurban diharapkan mampu memberi jawaban atas kondisi riil yang terjadi dimasyarakat melalui pengelolaan Qurban yang sarat dengan agenda-agenda perbaikan dan pemberdayaan ummat.
Mari jadikan momen Qurban ini, menjadi momen yang tidak terlupakan bagi saudara-saudara muslim kita yang membutuhkan. Saling berbagi kebaikan, saling berbagi kebahagiaan, hingga ukhuwah Islamiyah, persaudaraan Islam, persaudaraan diantara sesama muslim itu benar-benar terwujud, bukan hanya sekedar rasa yang terlupakan. Amin.
Jenis Qurban
Aqiqah
Aqiqah adalah menyembelih hewan pada hari ketujuh dari hari lahirnya anak (perempuan atau laki-laki).
Hukum: Sunnah bagi orang yang wajib menanggung nafkah si anak.
Ukuran: Untuk anak laki-laki hendaklah disembelih 2 ekor kambing, sedangkan untuk anak perempuan seekor kambing saja.
Waktu Sembelih: Hendaklah pada hari yang ketujuh setelah hari lahirnya anak, karena lebih utama. Tetapi kalau tidak dapat, maka boleh beberapa hari setelahnya, sebelum anak sampai baligh (dewasa).
Hak daging: Selain untuk sunnah disedekahkan kepada fakir miskin, dagingnya sunnah dikonsumsi oleh orang yang melaksanakan akikah dan keluarganya, dan sunnah pula sebagai hadiah kepada tetangga dan kerabatnya.
Qurban Id
Qurban Id adalah menyembelih hewan yang dilakukan pada saat lebaran haji/qurban atau Idul Adha.
Pelaksanaannya : pada hari Raya (10 Dzulhijjah, setelah Shalat Id) boleh pula pada hari Tasyriq, 11 Dzulhijjah sampai 13 Dzulhijjah (Sebelum Maghrib).
Hukum: Sunnah Muakkad bagi yang mampu (memiliki lebihan harta) lagi berkemauan.
Ukuran: Seekor kambing untuk 1 orang atau satu orang kepala keluarga yang mewakili keluarga yang dinafkahinya. Seekor Sapi dan Kerbau untuk 7 orang secara beramai-ramai.
Hak daging: Selain sunnah untuk disedekahkan kepada fakir miskin, dagingnya sunnah dikonsumsi oleh orang yang melaksanakan qurban dan keluarganya, dan sunnah pula sebagai hadiah kepada tetangga dan kerabatnya.
Nadzar
Apabila orang bernadzar untuk berqurban, yakni mewajibkan ibadah apabila ia mendapatkan nikmat (keuntungan) setelah keinginannya tercapai atau karena terhindar dari bahaya, atau mewajibkan ibadah dengan tidak ada
sebabnya.
Hukum: Asalnya adalah boleh, namun akan menjadi wajib jika nadzar itu dijalankan.
Ukuran: Sesuai yang dinadzarkan.
Waktu Sembelih: Segera.
Hak daging: Wajib menyedekahkan semuanya, tak boleh dimakannya, dan tak boleh dijualnya, sekalipun kulitnya.
Sukarela
Ibadah ini bukanlah termasuk ibadah qurban namun berupa sedekah, yang dilakukan oleh seseorang secara sukarela dan ikhlas, untuk diberikan kepada yang memerlukan.
*sebagian artikel ini disadur dari forkom umat muslim jerman, jazakumullohu khair.